Sang Perancang Seragam Pramuka – Puluhan tahun hanya hidup sebagai orang biasa, Nita Azhar tidak pernah menyangka bakal berkenalan dengan Sri Hardhani Hadikusumo. Dari gelarnya saja publik langsung paham bahwa beliau adalah keturunan ningrat, tepatnya kakak ipar dari Sri Sultan Hamengku Buwono X. tahun 2012 lalu, Sri Hardhani ditunjuk sebagai anggota Pengurus Bidang Usaha dan Kemitraan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia.

Bagaikan tersambar petir di siang bolong, mendadak ibu Sri Hardhani minta tolong ke Nita supaya merancang seragam pramuka nasional terbaru. Nita semakin terkejut hingga tubuhnya gemetaran sampai ujung kaki. Tanggung jawab yang diembannya begitu besar menempel pada pundaknya yang kecil, lembut, dan rapuh.

Ibu Sri Hardhani menambahkan, seragam hasil rancangan Nita nantinya menjadi standar nasional pramuka Indonesia. Semua institut pendidikan mulai dari PAUD, TK, SD, SLTP, dan SMA, berlanjut hingga ke istana presiden wajib mengikutinya

Kisah Nita Azhar Sang Perancang Seragam Pramuka Nasional RI1

Nita mengaku tidak pernah memiliki akses koneksi ke lingkungan keraton sebelumnya. Sebagai seorang perancang busana, ia terbiasa menerima produksi pakaian sebatas untuk keperluan pribadi. Kalau pun ada orderan massal, itu hanya meliputi pembuatan seragam perusahaan, hotel, atau sejenisnya.

Begitulah kira-kira kenangan manis Nita beberapa tahun lampau, ketika mengadakan sesi wawancara di kediamannya, Sleman. Ia betul-betul merasa takjub bahkan sampai detik ini, karena bisa ikut berkontribusi mengabdi kepada negara walaupun hanya bermodalkan seragam pramuka.

Tantangan Sri Hardhani Untuk Nita Azhar Sang Perancang Seragam Pramuka

Khalayak ramai merasa apa yang dialami oleh Nita bukan merupakan sesuatu hal spesial, alias wajar adanya. Pasalnya, saat itu Nita sudah punya reputasi terpandang di kalangan para perancang busana lokal dalam negeri. Untuk mematahkan anggapan tersebut, Nita terpanggil jiwanya dan langsung mengiyakan tawaran dari bu Sri Hardhani.

Kelihatannya memang seperti tindakan sembrono, namun ia yakin, hasil akhirnya bakal sepadan dengan resikonya. Ia menyiapkan hati, mental, lahir bathin, sebab menyadari sekian bulan nanti jadwalnya pasti full 24 jam 7 hari kerja. Laksana api berkobar, begitu pula semangatnya bergejolak akibat adrenalin mengalir deras melalui detakan jantungnya.

Tantangan Sri Hardhani Untuk Nita Azhar

Ramalannya terbukti menjadi kenyataan, berusaha memahami rancangan pesanan bu Sri Hardhani saja sudah memakan waktu berhari-hari lamanya. Nita mengolah kontur seragam pramuka lama dan memodifikasinya menjadi suatu desain yang sama sekali baru. Demi menghormati anggota keluarga bangsawan, Nita rela pulang pergi Jakarta-Jogja berkali-kali supaya dapat mendiskusikan proyek amanah berskala besar ini bersama ibu Sri Hardhani.

Maklum, beliau cukup sibuk dengan sejumlah acara kenegaraan yang harus dihadirinya tanpa boleh ada perwakilan. Ketika rapat mengenai seragam pramuka nasional, beberapa anggota pengurus Kwarnas pun turut hadir di sana. Meskipun melelahkan, toh Nita terlihat begitu menikmati pekerjaannya kali ini. Tidak terlihat sedikitpun ekspresi wajah lemah diperlihatkan oleh Nita selama mengerjakan pesanan Sri Hardhani.

Kisah Nita Azhar Pahwalan Nasional RI

Nita sadar betul, ia harus menerapkan standar tertinggi dari kemampuan desainer yang dimiliki olehnya. Maka dari itu, Nita berjanji akan mencurahkan seluruh jiwa dan raganya demi menyempurnakan maha karya ciptaannya. Ia memperhatikan dari segala aspek atau kemungkinan lingkungan ekstrim seperti apa untuk menunjang fungsi seragam dan sejarah dari peramuka itu sendiri untuk wanita.

Karena itulah sudah bulat keputusannya untuk merancang dua versi seragam, yaitu satu untuk aktifitas outdoor. Sementara lainnya, menyesuaikan dengan kebutuhan acara formal secara indoor. Selain mempertimbangkan estetika, pakaian seragam pramuka memang tidak bisa menjadi amfibi, harus dibedakan menurut kondisi lingkungan. Ibu Sri Hardhani pun menyetujui ide Nita sehingga palu resmi diketok sudah.

Kisah Nita Azhar Sang Perancang Seragam Pramuka Nasional RI11

Lebih spesifik lagi, seragam pramuka perempuan indoor disandingkan dengan penggunaan rok coklat tua. Dan masuk akal ketika seragam outdoor perempuan memakai celana panjang supaya bisa lebih leluasa bergerak. Kegiatan lapangan biasanya melibatkan alam bebas dengan segala macam medan terjal. Tidak mungkin memaksakan diri mengenakan rok panjang sekalipun, karena siswi harus memanjat, melompat, atau menerobos kubangan lumpur jika diperlukan.

Pandangan logika secara umum pula, tidak pernah ada sejarahnya produsen perlengkapan hiking menjual rok atau gaun wanita. Malahan mereka selalu menggambarkan sang foto model wanita bercelana pendek dengan bahanĀ  tebal dan kaku. Jadi, Nita merasa premis tersebut sudah tepat dan tidak perlu memaksakan ide out of the box.

Segala jerih payah Nita membuahkan hasil memuaskan pasca berkutat hingga tiga bulan lamanya hanya demi merancang dua pasang seragam pramuka. Semua jajaran tinggi di pemerintahan telah merestui desain buatan Nita yang mereka nilai cukup apik dan fungsional.

Melihat respon serba positif, ia segera mengambil tindakan nyata dengan memproduksi sampel untuk dipamerkan di Jakarta. Dalam hatinya Nita bergumam, ia yakin sekali kontribusi kecilnya akan berdampak besar pada keselamatan para peserta pramuka di masa depan. Khususnya berfokus pada kaum pramuka putri Indonesia kecintaan anak bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *